Invitation to Coastal Remote Sensing Seminar!

PUSPICS Faculty of Geography Universitas Gadjah Mada and The Remote Sensing Research Centre at The University of Queensland (Australia) formally invite you to attend and participate in our Coastal Remote Sensing Seminar. “Coastal Food Resource Monitoring using Remote Sensing for Indonesia, How to Do It?”. Thursday, 2nd June 2016, 09.00-17.00 WIB. Room E501 5th Floor of KLMB Building Faculty of Geography, UGM Yogyakarta, INDONESIA. This seminar aims to share the experience in integrating field and remote sensing data to map and monitor coastal food resources present in mangroves, seagrass, and coral environments, validating the resulting maps and communicating the results to wider audience.

SPEAKERS:

  • Prof. Stuart Phinn (RSRC UQ): Mapping, Monitoring and Managing Coastal Environments for Multiple Uses: Australian and International Approaches
  • Dr. Chris Roelfsema (RSRC UQ): Coastal Remote Sensing Web Based Toolkit
  • Ir. Sri Redjeki, M.Si. (UNDIP): Coastal Food Resources in Indonesia
  • Dr. Gatot H. Pramono (BIG): BIG’s Experience in Coastal and Shallow Water Habitat Mapping
  • Bayu Prayudha, M.Sc. (LIPI): Shallow Habitat Mapping in Coral Reef Ecosystem Monitoring Program
  • M. Iqbal Herwata Putra (ReefCheck): Coral Bleaching Status of Indonesia
  • Muhammad Kamal, PhD (UGM): Remote Sensing for Mangrove Mapping: Opportunities and Challenges

FREE REGISTRATION, PLEASE VISIT: http://goo.gl/forms/mIucp9OBedL6lg123. The registration form will be closed at Wednesday 1st June 2016 11:59pm OR once it reaches 50 responses.

This seminar is funded by Australia Indonesia Institute.

CP: M. Kamal, 08122741017, m.kamal@ugm.ac.id.

Invitation to Coastal Remote Sensing Seminar_final

Invitation to Coastal Remote Sensing Seminar_final

Workshop Penginderaan Jauh dari Universitas Queensland Australia

Peran penginderaan jauh untuk penyelenggaraan informasi geospasial tidaklah diragukan lagi. Mulai dari perolehan data sampai pengolahannya hingga menjadi informasi geospasial yang bermanfaat. Teknologi penginderaan jauh dapat menghemat biaya dan waktu terutama di dalam survei lapangan.

Berkenaan dengan hal tersebut, Senin 17 Februari 2014,BIG menyelenggarakan workshop penginderaan jauh (inderaja) dengan narasumber dari Universitas Queensland (UQ) Australia, Professor Stuart Phinn dan Dr. Chris Roelfsama, dengan moderator Dr. Projo Danoedoro, Ketua PUSPICS sekaligus Dosen FGE UGM. Workshop ini diselenggarakan dalam rangka kunjungan untuk menjajaki kerjasama dalam hal penelitian Penginderaan Jauh (Remote Sensing/RS) berkaitan dengan penyelenggaraan Informasi Geospasial Tematik (IGT) dan pendidikan di Indonesia.

Workshop yang diikuti oleh lebih dari seratus orang peneliti dan pemerhati penginderaan jauh dari BIG dan LAPAN ini, dibuka oleh Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik (IGT), yang diwakili oleh Kepala Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik (PPIT) Dr. Suprajaka. Dalam sambutan pembukaannya Deputi IGT berharap kerjasama yang dijalin dengan UQ dapat bermanfaat dan membantu tugas BIG khususnya dalam pengembangan IGT.

WS-UQ-02

Dalam presentasinya yang bertajuk “Integrating Remote Sensing Science into Management”, Stuart menjelaskan tentang Joint Remote Sensing Research Program (JRSRP) yaitu suatu program kolaborasi antara pemerintah dan akademisi yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan di bidang pemetaan dan monitoring ekosistem di darat, pesisir, dan lautan. Program ini mencakup pemetaan biomas, deteksi perubahan tutupan lahan, monitoring perubahan vegetasi, pengembangan Terrestrial Laser Scanning Processing System, validasi dan kalibrasi data LiDAR untuk proyeksi tutupan tajuk (LiDARderived Foliage Projective Cover) serta membangun jaringan penelitan terkait dengan ekosistem darat (The Terrestrial Ecosystem Research Network).

Metode pemetaan yang dikembangkan dari skala detail hingga skala nasional, seperti pada pemantauan biomas yang diawali dengan identifikasi biomas pada tingkat spesies tanaman, hingga pemantauan biomas vegetasi pada skala nasional dilakukan dengan memanfaatkan citra satelit Landsat multi tahun dan melibatkan banyak pengguna yang dapat memproses data secara online. Dalam hal ini, ada dua kunci utama yang mendukung kesuksesan program ini yaitu standar pemetaan atau pemrosesan data yang baku dan teknologi manajemen data yang handal. Kedua hal ini selaras dan dapat menjadi masukan berharga bagi BIG sebagai pembina Informasi Geospasial Tematik (IGT) yang mempunyai tugas mengembangkan standar pemetaan nasional sekaligus mengelola data nasional dalam volume yang sangat besar pula.

Selanjutnya Chris menyampaikan materi metode pemetaan sumberdaya alam secara multi tingkat diawali dengan identifikasi objek pada citra satelit, hingga pemetaan detail melalui survei lapangan untuk pemetaan sumberdaya pesisir dan laut seperti mangrove, terumbu karang dan lamun. Teknik pemetaan secara bertingkat sangat penting dalam pengembangan metode pemetaan sumberdaya pesisir sehingga diperoleh hubungan antara objek yang dipetakan dengan kenampakannya pada citra.

Berbagai teknik pemrosesan data satelit dikembangkaan untuk menghilangkan bias seperti koreksi kolom air. Pada survei lapangan pun dikembangkan berbagai inovasi untuk memudahkan surveyor dalam perolehan data lapangan termasuk pemanfaatan robot AUV (autonomous underwater vehicle) untuk membantu survei pada perairan dangkal, sekaligus meningkatkan akurasi survei dengan memperbaiki posisi pengambilan data secara berulang dalam segala kondisi perairan hingga pemanfaatan pesawat UAV (unmmaed aerial vehicle) untuk perolehan data secara detail dari udara.

Pemetaan terumbu karang dilakukan dengan citra multi spektral, dengan resolusi spasial menengah hingga tinggi, data lapangan, dan Object Based Image Classification (OBIA). Hasil penelitian di Australia, Fiji, dan Palau menunjukkan tingkat akurasi sebesar 50-80%. Pendekatan pemetaan bisa diaplikasikan untuk jenis terumbu karang yang berbeda, pada waktu atau musim yang berbeda juga. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa hasil dari pemetaan dapat dikembangkan untuk memprediksi sebaran ikan, sebagai dasar penentuan area perlindungan ekosistem perairan, indikator resilience untuk pemetaan terumbu karang, dan memperkirakan dampak kenaikan muka air laut.

Sumber: http://www.bakosurtanal.go.id/berita-surta/show/workshop-penginderaan-jauh-dari-universitas-queensland-australia

Arsip PUSPICS

Arsip: Upacara Peresmian Gedung PUSPICS
AF2.IP_.IG_.1981.2B
Rektor UGM, Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo, M.A., melakukan pemotongan pita dalam peresmian Gedung PUSPICS.
AF2.IP_.IG_.1981.2E
Rektor UGM, Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo, M.A., membuka Pendidikan PUSPICS Angkatan ke VIII

Sumber: http://arsip.ugm.ac.id/13-agustus-1981/

Call for Papers

SIMPOSIUM NASIONAL SAINS GEOINFORMASI 2015

  • Tema: Penguatan Peran Sains Informasi Geografis dalam Mendukung Penanganan Isyu-isyu Strategis Nasional

  • Yogyakarta, 25-26 November 2015
  • Auditorium Merapi, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada
    http://puspics.ugm.ac.id/sainsgeoinformasi2015/
  • http://www.simposiumgeoinformasi.tk/
    Pendahuluan
  • Pembangunan di Indonesia saat ini menjadi semakin kompleks dimensinya karena begitu banyak hal yang harus diperhatikan dan ditangani secara harmonis, dengan menekan seminimal mungkin konflik kepentingan antar-sektor. Di samping itu, dewasa ini kesadaran bahwa segala sesuatu yang terjadi di permukaan bumi atau dekat permukaan bumi sebenarnya selalu mempunyai dimensi spasial. Kebijakan satu peta (One Map Policy) yang telah dimulai sejak era pemerintahan terdahulu hingga sekarang tetap dipertahankan. Hal itu menunjukkan bahwa peta merupakan informasi yang sangat penting dalam pembangunan, serta perlu diharmonisasi untuk menghindari terjadinya tumpang-tindih informasi dan juga kesenjanganketersediaan data spasial antar-lembaga. Sementara itu, beberapa isyu strategis nasional pun secara implisit maupun eksplisit pun memerlukan informasi spasial agar dapat dirumuskan masalahnya dengan lebih tepat, efisien, dan dapat dicarikan solusinya secara tepat pula.

    Salah satu fokus untuk merespons isyu-isyu berkonteks spasial tersebut adalah melalui pengembangan sains dan teknologi yang relevan. Sains informasi geografis merupakan bidang kajian yang bertujuan untuk mendefinisikan kembali konsep-konsep geografi dan penggunaannya dalam konteks sistem informasi geografis (SIG). Sains Informasi geografis juga meneliti dampak SIG pada individu dan masyarakat, dan pengaruh masyarakat pada SIG. Sains Informasi Geografis mengkaji beberapa tema yang paling mendasar dalam bidang kajian spasial seperti misalnya geografi, kartografi, dan penginderaan jauh yang menggunakan SIG dalam analisisnya.

    Terkait dengan tantangan dalam penanganan isyu-isyu strategis nasional, simposium ini perlu membahas perkembangan sains informasi geografis di Indonesia, yaitu untuk mengetahui perkembangan terkini serta arah pengembangan konsep, metode dan teknik untuk mendukung penanganan isyu-isyu strategis nasional, seperti misalnya (a) perbatasan wilayah, (b) ketahanan dan kedaulatan pangan, (c) pengelolaan sumberdaya kelautan dan pesisir, (d) tata ruang, (e) pertahanan dan geointelijen, dan (f) pengembangan wilayah perdesaan.

    Call for Papers

    Simposium ini dilaksanakan untuk membahas perkembangan konsep , metode dan teknik pada topik-topik sains informasi geografis –baik dasar maupun terapan, serta upaya penguatan perannya secara nasional. Panitia simposium mengundang Anda untuk berpatisipasi dalam menyajikan makalah dan atau poster dengan memilih topik-topik berikut:

    1. Pengolahan citra digital penginderaan jauh
    2. Metode analisis dan pemodelan spasial
    3. Visualisasi kartografi
    4. Kartografi analitik
    5. Evaluasi lahan dan survei tanah
    6. Kajian vegetasi dan kehutanan
    7. Penutup dan penggunaan lahan
    8. Estimasi produksi pertanian dan Pertanian presisi
    9. Geografi kesehatan
    10. Tata ruang dan perencanaan wilayah
    11. Standardisasi informasi geospasial
    12. Pengembangan profesi bisa sains informasi geografis
    13. Kajian meteorologi dan klimatologi
    14. Survei kekotaan
    15. Akuisisi data penginderaan jauh (drone/UAV, spektrometri)
    16. Manajemen bencana
    17. Kurikulum sains informasi geografis
    18. Topik-topik lain yang terkait dengan aplikasi dan pengembangan konsep/metode/teknik spasialisasi informasi geografis.
    Abstrak Makalah atau Poster dapat dikirim melalui email: sainsgeoinformasi@gmail.com atau submit via web http://bit.do/abstrak.